Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post

Akhlaq: Bersandarlah Hanya Kepada Allah Semata

Written By Akmal Rahman on Sabtu, 28 September 2013 | 14.29


Tiada keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini, kecuali orang yang tidak memiliki sandaran, selain bersandar kepada ALLAH. Dengan meyakini bahwa memang ALLAH-lah yang menguasai segala-galanya, mutlak, tidak ada satu celah pun yang luput dari kekuasaan ALLAH, tidak ada satu noktah sekecil apapun yang luput dari genggaman ALLAH. Total, sempurna segala-galanya ALLAH yang membuat, ALLAH yang mengurus, ALLAH yang menguasai.

Adapun kita, manusia, diberi kebebasan untuk memilih, "Faalhamaha fujuu rahaa wa takwahaa", "Dan sudah diilhamkan dihati kita untuk mau berbuat memilih mana kebaikan, mana keburukan". (QS. Asy Syamsi 91:8) Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan kepada kita tinggal kita memilih mana yang akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk orang yang berkelakuan buruk dan terpuruk, bukan karena salah siapapun, kecuali diri kitalah yang memilih menjadi buruk dan terburuk, naudzubillah.

Sedangkan keberuntungan bagi orang-orang yang bersandarnya hanya kepada ALLAH mengakibatkan dunia ini, atau siapapun, terlampau kecil untuk menjadi sandaran baginya. Perhatikan saja, seseorang yang bersandar pada sebuah tiang akan sangat takut tiangnya diambil, karena dia akan segera terguling, akan jatuh terpelanting. Bersandar kepada sebuah kursi, dia akan sangat takut kursinya diambil. Begitulah orang-orang yanga panik dalam hidup ini adalah orang-orang yang bersandar kepada kedudukannya, bersandar kepada hartanya, bersandar kepada penghasilannya, bersandar kepada kekuatan fisiknya, bersandar kepada depositonya, atau sandara-sandaran yang lainnya.

Padahal semua yang kita sadari sangat mudah bagi ALLAH (mengatakan "sangat mudah" juga ini terlalu kurang etis), atau akan "sangat mudah sekali" bagi ALLAH untuk mengambil apa saja yang kita sandari. Namun, andaikata kita bersandar hanya kepada ALLAH yang menguasai setiap kejadian, "Laa khaufun alaihim walaahum yahjanun", kita tidak akan pernah panik oleh apapun dan siapapun, insyaallah.

Jabatan diambil, tidak apa-apa, karena jaminan dari ALLAH tidak tergantung kepada jabatan kita. Apa artinya kita diberi jabatan, kedudukan di kantor, di kampus, tapi kedudukan itu malah memperbudak diri kita, bahkan tidak jarang menjerumuskan dan menghinakan kita. Kita lihat banyak orang terpuruk hina karena jabatannya. Maka, kalau kita bergantung pada kedudukan, jabatan, kita akan takut kehilangannya. Akibatnya, kita akan berusaha mati-matian untuk mengamankannya dan terkadang menyebabkan sikap kita jadi jauh dari kearifan.

Tapi, sungguh bagi orang-orang yang bersandar hanya kepada ALLAH dengan ikhlas, ah silakan, buat apa bagi saya jabatan, kalau jabatan itu tidak mendekatkan diri kita kepada ALLAH, tidak membuat saya terhormat dalam pandangan ALLAH. Tidak apa-apa jabatan kita kecil dalam pandangan manusia, tapi besar dalam pandangan ALLAH karena kita dapat mempertanggungjawabkannya dengan baik. Tidak apa-apa kita tidak mendapatkan pujian, penghormatan, dari makhluk, tapi mendapat penghormatan yang besar dari ALLAH SWT. Karena kita tidak akan terjamin oleh kedudukan kita, percayalah walaupun kita punya gaji 10 juta, tidak sulit bagi ALLAH sehingga kita punya kebutuhan 12 juta. Kita punya gaji 15 juta, tapi oleh ALLAH diberi penyakit seharga 16 juta, sudah pasti tekor itu.

Oleh karena itu, jangan bersandar kepada gaji atau pula bersandar kepada tabungan. Sebab, punya tabungan uang, mudah bagi ALLAH untuk mengambilnya. Cukup saja dibuat urusan sehingga kita harus mengeluarkan uang yang lebih besar dari tabungan kita. Demi ALLAH, tidak ada yang harus kita gantungi selain hanya ALLAH saja. Punya Bapak seorang pejabat, punya kekuasaan, mudah bagi ALLAH untuk memberikan penyakit yang membuat bapak kita tidak bisa menandatangani apapun, sehingga jabatannya harus segera digantikan.

Punya suami gagah perkasa; otot kawat balung besi, leher beton, urat kabel, wajah asbes. Begitu kokohnya, lalu kita merasa aman dengan bersandar kepadanya, apa sulitnya bagi ALLAH membuat sang suami muntaber, akan sangat sulit berkelahi atau beladiri dalam keadaan 'muntaber'. Atau tiba-tiba muncul bisul-bisul di ujung tangan dan jarinya, mukul siapa kalau tangannya bisulan. Atau ALLAH mengirimkan nyamuk Aides Aigypty yang betina, lalu menggigitnya sehingga menderita demam berdarah, maka lemahlah dirinya. Jangankan untuk membela orang lain, membela dirinya sendiri juga sudah sulit, walaupun ia seorang jago beladiri karate misalnya.

Siapapun yang gagah lalu petantang-petenteng, dikirim saja oleh ALLAH bakteri atau virus, maka cukup untuk membuat gigil dan takluk. Sungguh tidak ada yang bisa digantungi. Otak cerdas, tidak layak membuat kita bergantung pada otak kita, karena cukup dengan kepleset menginjak kulit pisang kemudian terjatuh dengan kepala bagian belakang membentur tembok, bisa geger otak, koma, bahkan mati.

Semakin kita bergantung kepada sesuatu, semakin diperbudak kita oleh sesuatu itu. Oleh karena itu, para istri jangan terlalu bergantung pada suami. Karena suami bukanlah pemberi riski, suami hanya salah satu jalan rizki dari ALLAH SWT, suami setiap saat bisa tidak berdaya. Suami pergi ke kantor, maka hendaknya istri menitipkannya kepada ALLAH.
"Wahai ALLAH, Engkaulah penguasa suami saya, titip matanya agar terkendali, titip hartanya andai ada jatah rizki yang halal berkah bagi kami, tuntun supaya ia bisa ikhtiar di jalan-Mu, hingga berjumpa dengan jatah rizkinya dalam keadaan barokah, tapi kalau tidak ada jatah rizkinya, tolong diadakan yaa ALLAH, karena Engkaulah yang Maha Pembuka dan Penutup rizki, jadikan pekerjaannya menjadi amal sholeh".

Insyaallah suami pergi bekerja di-back up oleh doa sang istri, subhaanallah.
Ketika pulang ternyata, 
"Mah, tidak jadi kita dapat untung". 
"Pah, kita sudah untung". 
"Mana Papah tidak bawa uang?". 
"Niat sudah merupakan keberuntungan, bersimbah keringat, berkuah peluh, 
merupakan keuntungan, apa yang kurang Pah?" 
"Tapi Mah, Papaph tidak berhasil dapat uang?" 
"Subhaanallah, uang itu nanti pasti ada di saat yang tepat. Apalah 
artinya kita punya uang, kalau hanya akan menjerumuskan, tenang Pah masih 
ada stock beras". 
"Tapi kan tidak ada lauk pauknya" 
"Justru daging itu enak kalau jarang. Bayangkan kalau Papah makan 
durian setiap hari, pasti itu durian tidak akan enak lagi. Pasti ada 
hikmah, tidak ada keburukan yang tidak mengandung kebaikan. Tenang Pah" 
"Mamah tidak kecewa?" 
"Apa yang perlu dikecewakan, kewajiban kita hanya menyempurnakan niat 
dan ikhtiar".

Subhaanallah, demikian percakapan sebuah keluarga yang bersungguh-sungguh menyandarkan dirinya hanya kepada ALLAH saja. "Wa maa yatawakkal alallah fahua hasbu", "Dan barang siapa yang hatinya bulat tanpa ada celah, tanpa ada retak, tanpa ada lubang sedikit pun. Bulat, total, penuh, hatinya hanya kepada ALLAH, bakal dicukupi segala kebutuhannya" (Q.S At Thalaq 65: 3).

ALLAH Maha Pencemburu dan tidak suka hati hambanya bergantung kepada makhluk, apalagi bergantung kepada benda-benda mati. Mana mungkin itu terjadi, sedangkan setiap makhluk itu ada dalam genggaman dan kekuasaan ALLAH. Kita bergantung kepada apa yang dikuasai ALLAH, padahal ALLAH yang menguasai segala kejadian.

Oleh karena itu, harus bagi kita untuk terus menerus meminimalkan penggantungan. Karena makin banyak bergantung, siap-siap saja makin banyak kecewa. Padahal, yang kita gantungi "Laahaula walaa quwwata illaa billah" (tiada daya dan kekuatan yang dimilikinya kecuali atas kehendah ALLAH). Maka, sudah seharusnya hanya kepada ALLAH sajalah kita menggantungkan, kita menyandarkan segala sesuatu, dan sekali-kali tidak kepada yang lain. 


(Ust. Abdullah Gymnastiar)

Hukum Onani menurut Islam


Dalam bahasa Indonesia Masturbasi memiliki beberapa istilah yaitu onani atau rancap, yang maksudnya perangsangan organ sendiri dengan cara  menggesek-geseknya melalui tangan atau  benda lain hingga mengeluarkan sperma dan mencapai orgasme. Sedangkan bahasa gaulnya adalah coli atau main sabun yaitu kegiatan yang dilakukan seseorang dalam memenuhi kebutuhan seksualnya, dengan menggunakan tambahan alat bantu sabun atau benda-benda lain, sehingga dengannya dia bisa mengeluarkan mani(ejakulasi).
Tujuan utama masturbasi adalah mencari kepuasan atau melepas keinginan nafsu seksual dengan jalan tidak bersenggama. Akan tetapi masturbasi tidak dapat memberikan kepuasan yang sebenarnya. Berbeda dengan bersenggama yang dilakukan oleh dua orang yang berlawanan jenis dalam ikatan perkawinan yang syah. Mereka mengalami kesenangan, kebahagiaan, keasyikan bersama dan penyerahan menyeluruh.
Dalam masturbasi satu-satunya sumber rangsangan adalah khayalan imaji  diri sendiri. Itulah yang menciptakan suatu gambaran erotis dalam pikiran. Masturbasi merupakan rangsangan yang sifatnya lokal pada anggota kelamin. Akibatnya masturbasi tidak bekerja sebagai suatu kebajikan. Hubungan seks yang normal dapat menimbulkan rasa bahagia dan gembira, sedangkan masturbasi malah menciptakan depresi emosional dan psikologis. Oleh karena itu memuaskan diri dengan masturbasi bertentangan dengan kehidupan seksual yang normal.
Menurut penelitian, mereka yang biasanya melakukan masturbasi berumur antara tiga belas hingga dua puluh tahun. Pada umumnya yang melakukan masturbasi adalah mereka yang belum kawin, menjanda, menduda atau orang-orang yang kesepian atau dalam pengasingan.
Anak laki-laki lebih banyak melakukan masturbasi daripada anak perempuan. Penyebabnya antara lain, pertama, nafsu seksual anak perempuan tidak datang melonjak dan eksplosit. Kedua, perhatian anak perempuan tidak tertuju kepada masalah senggama karena mimpi seksual dan mengeluarkan sperma (ihtilam) lebih banyak dialami laki-laki. Mimpi erotis yang menyebabkan orgasme pada perempuan terjadi jika perasaan itu telah dialaminya dalam keadaan terjaga.
Masalah yang berkaitan dengan onani atau dalam bahasa arabnya disebut istimna‘ banyak dibahas oleh para ulama. Sebagian besar ulama mengharamkannya namun ada juga yang membolehkannya.
1. Yang mengharamkan
Umumnya para ulama yang mengharamkan onani berpegang kepada firman Allah SWT:”Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya kecuali terhadap isterinya atau hamba sahayanya, mereka yang demikian itu tidak tercela. Tetapi barangsiapa mau selain yang demikian itu, maka mereka itu adalah orang-orang yang melewati batas.” (Al-Mu‘minun: 5-7).Mereka memasukkan onani sebagai perbuatan tidak menjaga kemaluan.
Dalam kitab Subulus Salam juz 3 halaman 109 disebutkan hadits yang berkaitan dengan anjuran untuk menikah: Rasulullah SAW telah bersabda kepada kepada kami,”Wahai para pemuda, apabila siapa diantara kalian yangtelah memiliki baah (kemampuan) maka menikahlah, kerena menikah itu menjaga pandangan dan kemaluan. Bagi yang belum mampu maka puasalah, karena puasa itu sebagai pelindung. HR Muttafaqun ‘alaih.
Di dalam keterangannya dalam kitab Subulus Salam, Ash-Shan‘ani menjelaskan bahwa dengan hadits itu sebagian ulama Malikiyah mengharamkan onani dengan alasan bila onani dihalalkan, seharusnya Rasulullah SAW memberi jalan keluarnya dengan onani saja karena lebih sederhana dan mudah. Tetapi Beliau malah menyuruh untuk puasa.
Sedangkan Imam Asy-Syafi‘i mengharamkan onani dalam kitab Sunan Al-Baihaqi Al-Kubro jilid 7 halaman 199 dalam Bab Onani ketika menafsirkan ayat Al-Quran surat Al-Mukminun …Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya.Begitu juga dalam kitab beliau sendiri Al-Umm juz 5 halaman 94 dalam bab Onani.
Imam Ibnu Taymiyah ketika ditanya tentang hukum onani beliau mengatakan bahwa onani itu hukum asalnya adalah haram dan pelakunya dihukum ta‘zir, tetapi tidak seperti zina.Namun beliau juga mengatakan bahwa onani dibolehkan oleh sebagian shahabat dan tabiin karena hal-hal darurrat seperti dikhawatirkan jatuh ke zina atau akan menimbulkan sakit tertentu. Tetapi tanpa alasan darurat, beliau (Ibnu Taymiyah) tidak melihat adanya keringanan untuk memboleh onani.
2. Yang membolehkan
Diantara para ulama yang membolehkan istimna‘ antara lain Ibnu Abbas, Ibnu Hazm dan Hanafiyah dan sebagian Hanabilah.Ibnu Abbas mengatakan onani lebih baik dari zina tetapi lebih baik lagi bila menikahi wanita meskipun budak.Ada seorang pemuda mengaku kepada Ibnu Abbas,”Wahai Ibnu Abbas, saya seorang pemuda dan melihat wanita cantik. Aku mengurut-urut kemaluanku hingga keluar mani”. Ibnu Abbas berkata,”Itu lebih baik dari zina, tetapi menikahi budak lebih baik dari itu (onani).
Mazhab Zhahiri yang ditokohi oleh Ibnu Hazm dalam kitabnya Al-Muhalla juz 11 halaman 392 menuliskan bahwa Abu Muhammad berpendapat bahwa istimna‘ adalah mubah karena hakikatnya hanya seseorang memegang kemaluannya maka keluarlah maninya. Sedangkan nash yang mengharamkannya secara langsung tidak ada.
Sebagaimana dalam firman Allah: “Dan telah Kami rinci hal-hal yang Kami haramkan” Sedangkan onani bukan termasuk hal-hal yang dirinci tentang keharamannya maka hukumnya halal. Pendapat mazhab ini memang mendasarkan pada zahir nash baik dari Al-Quran maupun Sunnah.
Sedangkan para ulama Hanafiyah (pengikut Imam Abu Hanifah)dan sebagian Hanabilah (pengkikut mazhab Imam Ahmad) -sebagaimana tertera dalam Subulus Salam juz 3 halaman 109 dan juga dalam tafsir Al-Qurthubi juz 12 halaman 105- membolehkan onani dan tidak menjadikan hadits ini tentang pemuda yang belum mampu menikah untuk puasa diatas sebagai dasar diharamkannya onani. Berbeda dengan ulama syafi‘iah dan Malikiyah. Mereka memandang bahwa onani itu dibolehkan. Alasannya bahwa mani adalah barang kelebihan. Oleh karena itu boleh dikeluarkan, seperti memotong daging lebih.
Namun sebagai cataan bahwa ada dua pendapat dari mazhab Hanabilah, sebagian mengharamkannya dan sebagian lagi membolehkannya. Bila kita periksa kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ibni Hanbal juz 4 halaman 252 disebutkan bahwa onani itu diharamkan.
Ulama-ulama Hanafiah juga memberikan batas kebolehannya itu dalam dua perkara:
1. Karena takut berbuat zina.
2. Karena tidak mampu kawin.
Pendapat Imam Ahmad memungkinkan untuk kita ambil dalam keadaan gharizah itu memuncak dan dikawatirkan akan jatuh ke dalam haram. Misalnya seorang pemuda yang sedang belajar atau bekerja di tempat lain yang jauh dari negerinya, sedang pengaruh-pengaruh di hadapannya terlalu kuat dan dia kawatir akan berbuat zina. Karena itu dia tidak berdosa menggunakan cara ini (onani) untuk meredakan bergeloranya gharizah tersebut.
Tetapi yang lebih baik dari itu semua, ialah seperti apa yang diterangkan oleh Rasulullah s.a.w. Terhadap pemuda yang tidak mampu kawin, yaitu kiranya dia mau memperbanyak puasa, dimana puasa itu dapat mendidik beribadah, mengajar bersabar dan menguatkan kedekatan untuk bertaqwa dan keyakinan terhadap penyelidikan (muraqabah) Allah kepada setiap jiwa seorang mu‘min.
Untuk itu Rasuluilah s.a.w. Bersabda sebagai berikut:
“Hai para pemuda! Barangsiapa di antara kamu sudah ada kemampuan, maka kawinlah sebab dia itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan; tetapi barangsiapa tidak mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab puasa itu baginya merupakan pelindung.” (Riwayat Bukhari).
Sedangkan dari sisi kesehatan, umumnya para dokter mengatakan bahwa onani itu tidak berbahaya secara langsung. Namun untuk lebih jelasnya silahkan langsung kepada para dokter yang lebih menguasai bidang ini.


Video: Highlight of SMPIT Abu Bakar Yogyakarta

Written By Akmal Rahman on Minggu, 22 September 2013 | 15.35

Opini: SMPIT Abu Bakar, sekolah yang menyenangkan



Assalamu'alaikum semuanya. Mari kita berkenalan dengan SMPIT ABY! Abu Bakar Yogyakarta, sekolah bertaraf Islamic Modern, yang mengutamakan pendidikan dan agama. Sekolah yang beralamat di Jalan Veteran, Gg. Bekisar, Yogyakarta. Nah, mari kita berkanalan sekarang!

SMPIT Abu Bakar, didirikan tahun 2001, merupakan naungan dari Yayasan Mulia, dan lanjutan dari SDIT Luqman Al-Hakim (Esluha). Awalnya sekolah ini hanyalah sebuah Boarding School (Pesantren), kemudia angkatan kedua atau ketiga diadakan Program Fullday School, yang saat itu murid Fulldaynya masih berjumlah 6 orang. Hanya ada dua gedung saat itu, dan hanya satu kantin.

Sekarang, sudah ada 4 gedung permanen, 3 Gedung lama, dan 1 gedung baru, yang bertemakan Egyptian, yang masih dalam tahap pembangunan. Sekarang SMPIT ABY sudah berada di peringkat 7 se-kota Yogyakarta, padahal dia merupakan sekolah termuda anti-Mainstream. Peribahasanya, "Andhang-andhang brojol, wis dadi panglimo." 

Kepala sekolah saat ini adalah Bapak Akhsanul Fuadi S.Ag M.Pd.I, Sang Maestro Karate. Beliau yang mengajarkan siswa disini karate, bersama Senpai dan Sensei lainnya. Sehingga SMPIT dapat beragam gelar dalam hal karate.

Tidak lupa, dalam hal olahraga lainnya sekolah ini mendapatkan berbagai pennghargaan dari berbagai ajang Olahraga. Bahkan, sekolah ini dapat membuat Turnamen Futsal, tapi sayang nggak dapat juara T.T

          Eskul di SMPIT ABY:
·        Futsal
·        Basket
·        Karate
·        Karya Ilmiah Remaja
·        Elektronika
·        Jurnalistik dan SA
·        Bulan Sabit Merah Remaja
·        Hadroh
·        dll

Dalam hal Turnamen Akadmik, SMPIT dapat mengirimkan 3 Wakil dalam OSN tingkat Provinsi, dan 1 wakil OSN tingkat Nasional, mapel Biologi, yaitu Kemuning Arumingtyas Adiputri. Sayang beliau tidak mendapatkan title dalam Olimpiade tersebut, tapi ya sudah masuk nasional, berarti beliau sudah mendapatkan tambahan NEM.

Nah, begitulah SMPIT, sekolah yang belia, tapi sudah bisa mengubah dunia pendidikan. Alhamdulillah.

Hello, selamat datang di Blog Khotib!

Written By Akmal Rahman on Sabtu, 07 September 2013 | 20.42

Assalamu'alaikum teman-teman? Apa kabar? Selamat datang di blog kami, Blog khotib, Blog isine khotbah. Nanti rencananya kita akan memberi pencerahan kepada kalian dengan khotbah-khotbah islami yang menarik. Tunggi saja nanti :)

Welcome
 
Support : Djino Gadget | Infolinks
Copyright © 2013. Blog Khotib - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mastemplate
Edited by Djino Gadget